Selasa, 21 September 2021

KOMPONEN INSTALASI LISTRIK

 KOMPONEN-KOMPONEN INSTALASI LISTRIK


Komponen Pokok Instalasi 
Komponen instalasi listrik merupakan perlengkapan yang paling pokok dalam suatu rangkaian instalasi listrik. Dalam pemasangan instalasi listrik banyak macamnya, untuk memudahkan bagi siswa / instalatir komponen tersebut dikelompokan : 
1. Bahan Penghantar 
2. Kotak Kontak 
3. Fiting 
4. Saklar 
5. Pengaman 
6. Peralatan Pelindung 
Komponen instalasi listrik yang akan dipasang pada instalasi listrik , harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 
a. Keandalan, menjamin kelangsungan kerja instalasi listrik pada kondisi normal. 
b. Keamanan, komponen instalasi yang dipasang dapat menjamin keamanan system instalasi listrik. 
c. Kontinuitas, komponren dapat bekerja secara terus menerus pada kondisi norma

1. bahan penghantar
Bahan penghantar adalah bahan yang dapat menghantarkan arus listrik dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Bahan penghantar dapat digalongkan menjadi tiga bagian:

a.     Penghantar bentuk padat;Tembaga ,aluminium,baja.
b.  Bentuk Cair (elektrolit) termasuk jenis air raksa,asam sulfat,perak   nitrat.
c.     Bentuk gas,gas neon,gas argon,gas krypton.

Sifat-sifat yang dimiliki oleh penghantar:

1.      Sifat kelistrikan.

Bahan penghantar yang paling baik adalah bahan yang mempunyai tahanan jenis yang paling kecil.Tembaga adalah jenis penghantar yang paling baik setelah perak.akhir-akhir ini juga banyak digunakan aluminium dan baja sebagai penghantar walupun tahanan jenisnya agak besar.

Tabel 1.  Tahanan Jenis Penghantar  

Nama bahan

Tahanan jenis

Perak
Tembaga
Cobalt
Emas
Aluminium
Wolfram
Seng
Kuningan
Nikel
Platina
Nikelin
Baja
Timbal
0,016
0,0175
0,022
0,022
0,03
0,05
0,06
0,07
0,079
0,1
0,42
0,13
0,21

Dari tabel yang kita lihat,semakin kecil tahanan jenis suatu bahan penghantar,berarti semakin baik daya hantar listriknya. Namun ada juga jenis penghantar lain, yakni Penghantar tembaga setengah keras (BCC ½ H = Barch Copper Conductor Half Hard) memiliki nilai tahanan jenis 0,0185.

Kabel instalasi berselubung Penggunaan kabel instalasi berselubung jika dibandingkan dengan dalam pipa diantaranya : 

  1.  Lebih mudah dibengkokan 
  2. Lebih tahan terhadap pengaruh asam dan uap atau gas tajam 
  3. Sambungan dengan alat pemakai dapat ditiup lebih rapat 
Beberapa pengertian huruf yang digunakan pada kode kabel disusun dalam nomenklatur kabel diantaranya adalah : 

N : kabel standar dengan penghantar tembaga 
NA : kabel standar dengan penghantar aluminium 
Y : Isolasi atau selubung PVC 
F : Perisai kawat baja pipih 
R : Perisai kawat baja bulat 
Gb : Spiral pita baja 
re : penghantar padat bulat 
rm : penghantar bulat kawat banyak 
se : penghantar padat bentuk sektor 
sm : penghantar kawat banyak bentuk sektor

contoh 2.1 NAYFGbY 4 x 120 SM 0,6/1 kV Artinya : kabel jenis standar dengan penghantar aluminium kawat banyak bentuk sektor, berisolasi dan berselubung PVC, dengan perisai kawat baja pipih dan spiral pita baja. Jumlah urat empat, luas penampang nominal masing-masing 120 mm2 , dan tegangan kerja nominal 0,6/1 kV. Salah satu jenis kabel instalasi berselubung adalah kabel jenis NYM, dimana kabel ini memiliki penghantar tembaga polos bersiolasi PVC dengan luas penampang 1,5 mm2 – 10 mm2 dan penghantarnya kawat tunggal. Untuk penampang 16 mm 2 ke atas penghantarnya terdiri atas sejumlah kawat yang dipilin menjadi satu. Kemampuan menghantar arusnya dari kabel NYM ini dapat dijelaskan pada tabel 2.2. Tbel 2.2 ini berlaku untuk semua kabel instalasi yang berisolasi dan berselubung PVC termasuk kabel fleksibel dengan penghantar tembaga suhu maksimum 70OC pada suhu keliling 30OC. 


Tabel 2.  Kemampuan hantar arus kabel instalasi berisolasi dan berselubung PVC

Sedangkan warna selubung luar kabel PVC telah dibakukan sebagaimana ayat 720 G1 seperti dijelaskan pada tabel berikut.

Tabel 3.  Warna selubung luar kabel PVC


 2. Kontak Listrik
a. Kotak-kontak (stop kontak) Kotak kontak merupakan tempat untuk mendapatkan sumber tegangan listrik yang diperlukan untuk pesawat atau alat listrik. Tegangan Sunber listrik ini diperoleh dari hantaran fasa dan netral yang berasal dari PLN. Kotak kontak dipasang dengan ketinggian dari lantai  125 cm  - 150 cm. Jika dipaang kurang dari etinggian tersebut maka kotak kotak harus dilengkapi dengan pelindung.  Simbol dan jenis kotak kontak dapat dilihat pada gambar.


. b. Kontak Tusuk
Kontak tusuk digunakan untuk menghubungkan pesawat atau alat listrik yang dipasang tetap ataupun dapat dipindah-pindahkan
Penggunaan dan pemasangan kontak ada beberapa ketentuan antara lain : 
a. Kotak-kontak dinding fasa satu harus dipasang hingga kontak netralnya ada disebelah kanan (ayat 206 B4). 
b. Kotak-kontak dinding yang dipasang kurang dari 1,25 meter di atas lantai harus dilengkapi dengan tutup (ayat 840 C5) 
c. Kotan-kontak yang dipasang dilantai harus tertutup (ayat 511 B4) 
d. Kotak-kontak dinding dengan pengaman harus dipasang hantaran pengaman (ayat 321 B1 sub b4) 
e. Ruangan yang dilengkapi dengan kotak kontak dengan kotak pengaman, tidak boleh dipasang kotak-kontak tanpa pengaman, kecuali kotak-kontak tegangan rendah dan untuk pemisahan pengaman (ayat 321 B1 sub b4) 
f. Pada satu tusuk kontak, hanya boleh dihubungkan satu kabel yang dapat dipindahpindah (ayat 511 A9 sub c) 
g. Kemampuan kotak-kontak harus sekurang-kurangnya sesuai dengan daya yang dihubungkan padanya, tetapi tidak boleh kurang dari 5 A (ayat 840 C6)

2. Sakelar 
Sakelar berfungsi untuk memutuskan dan menghubungkan rangkaian listrik. Sakelar dan pemisah harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain : 
a. Dapat dilayani secara aman tanpa harus memerlukan alat bantu 
b. Jumlahnya harus sesuai hingga semua pekerjaan pelayanan, pemeliharaan, dan perbaikan instalasi dapat dilakukan dengan aman. 
c. Dalam keadaan terbuka, bagian sakelar atau pemisah bergerak harus tidak bertegangan (ayat 206 B1). d. Harus tidak dapat terhubungkan sendiri karena pengaruh gaya berat (ayat 206 B1). 
e. Kemampuan sakelar minimal sesuai dengan gaya daya alat yang dihubungkannya, tetapi tidak boleh kurang dari 5 A (ayat 840 C6).
f. Jarak pemasangan ketingian dari lantai 125 cm - 150 cm

 Simbol ,lambang dan konstruksi dari berbagai jenis sakelar ini dapat dilihat pada gambar  


Menurut konstruksinya sakelar dikelompokkan menjadi : sakelar kontak, sakelar tumpuk atau sakelar paket, sakelar sandung, sakelar tuas, dan sakelar giling. Sedangkan ditinjau dari cara kerjanya (jenis alat penghubungnya), dapat dikelompokkan menjadi : sakelar putar, sakelar balik, sakelar tarik, sakelar jungkit, dan sakelar tombol tekan. Jika ditinjau dari hubungan dan jenis alat penghubung, sakelar dibedakan menjadi : sakelar tunggal, sakelar dwi-kutub (kutub ganda), sakelar tri-kutub, sakelar seri, sakelar tukar dan sakelar silang







Minggu, 19 September 2021

PERANGKAT HUBUNG BAGI (Komponen)

Komponen panel kontrol listrik 

Panel kontrol listrik adalah peralatan yang berfungsi untuk mengatur dan mengendalikan beban listrik di bengkel listrik atau industri yang menggunakan motor listrik sebagai penggeraknya. Setiap beban motor listrik berdaya besar diindustri selalu dilengkapi dengan panel kontrol listrik. Guna mengoperasikan motor listrik dimana motor listrik dapat dikendalikan dari dekat maupun jauh diperlukan alat kontrol sebagai penghubung sekaligus sebagi pengatur. Agar motor dan alat kontrolnya dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya, banyak faktor yang harus dipertimbangkan baik mesin maupun alat kontrolnya. Komponen-komponen  panel listrik, meliputi: Pengaman listrik, Kontaktormagnit, Time delay, Push botton, Overload, Lampu indikator, Transformator, alat ukur listrik.

1. Pengaman
Pengaman listrik harus selalu dipasang pada setiap panel dengan urutan pemasangan sebagai berikut: NFB dan MCB. Ketentuan yang besarnya arus pengaman tidak boleh melebihi arus nominal kabel yang dipasang pada rangkaian pengendali atau rangkaian pengawatan. 
Pengaman listrik NFB digunakan untuk pengaman induk, MCB 1 Fasa digunakan untuk pengaman rangkaian pengendali dan MCB 3 Fasa untuk pengaman rangkaian pengawatan
MCB atau pemutus tenaga berfungsi untuk memutuskan rangkaian apabila ada arus yamg mengalir dalam rangkaian atau beban listrik melebihi dari kemampuan. Misalnya adanya konsleting dan lainnya. Pemutus tenaga ada yang  untuk satu phase dan ada yang untuk 3 phase. Untuk 3 phase terdiri dari tiga buah pemutus tenaga 1 phase yang disusun menjadi satu kesatuan



 Thermal Over Load/saklar termis selalu dipasang seri dengan beban yang berfungsi sebagai pengaman. Apabila terjadi kelebihan beban, hubung singkat atau gangguan lainnya yang mengakibatkan naik arus secara otomatis, saklar termis akan bekerja memutuskan arus listrik dengan beban sehingga keamanan beban terjaga.
Adapun saklar termis bekerja atas dasar panas. Saklar termis ini dibuat dari dua logam yang disatukan yang dikenal dengan bimetal yang masing-masing mempunyai koefisien muai yang berbeda (yang satu mudah memuai dan yang lainya tidak mudah memuai). Dengan demikian apabila kena panas akibat arus listrik melewati ketentuan, plat bimetal akan membengkok menjauhi plat yang tidak mudah memuai akhirnya plat tidak sambung, dan apabila arus yang mengalir normal atau panas normal maka plat tersebut akan ke posisi semula yang akhirnya arus listrik akan mengalir lagi.
Pemilihan termorelai, yang harus diperhatikan:
a)   Kemampuan hantar arus (KHA)
b)   Tegangan kerja nominal
c)    Nilai nominal arus beban lebih (seting arus beban lebih).
Termorelai hanya mempunyai kontak bantu saja dan diagram kontak-kontak termorelai diberi penomoran seperti berikut:
·     Kontak  nomor 95-96  disebut kontak pembuka (NC)
·     Kontak  nomor 97-98  disebut kontak penutup (NO)
·     Kontak nomor 95–96–98 disebut kontak tukar (NO/NC)



 



2. Kontaktormagnet
Kontaktormagnit adalah saklar yang bekerja berdasarkan elektromagnetis digunakan untuk membuka dan menyambung rangkaian listrik (load).  Kontaktormagnit bekerja untuk merubah kontak-kontak Normally Open (NO) dan Normally Close (NC). Pada kontaktormagnit terdapat dua kontak yaitu: Kontak Utama  (NO) yang diberi nomor terminal 1-2, 3-4 dan 5-6. dan kontak bantu  dengan nomor terminal 13-14 (NO) dan seterusnya serta 21-22 (NC) dan seterusnya. Kontak utama pada terminal 1-3-5 dihubungkan ke sumber energi dan terminal 2-4-6 dihubungkan ke beban (load). Kontaktormagnit pabrikan terdiri dari beberapa kontak diantaranya: 3NO+1NO; 3 NO+1NO 1NC; 3 NO+2NO 2NC. Untuk kemampuan arusnya dapat memilih dengan kemampuan arus 10 A; 15 A; 25 A; 30A; 50 A dll
Untuk memilih kontaktor harus memperhatikan beberapa hal:
a)      Tegangan kerja
b)      Besarnya daya
c)       Kemampuan hantar arus (kontaknya)
d)      Jumlah kontak bantu yang dimiliki.




          

3. Time Delay Relay (TDR)
TDR atau Relai penunda waktu digunakan untuk memperoleh periode waktu yang dapat diatus/sistel menurut kebutuhan. Setelah distel ia tidak boleh dirubah sampai pada saat yang ditentukan, posisinya akan berubah sendiri.

                               
                                                                                                   soket TDR


                                               
Apabila arus listrik mengalir pada terminal 2 dan 7(kumparan) dan waktu sudah diatus maka posisi semula titik 3–1 dan 6–8 terbuka sedangkan titik 4–1 dan titik 5-8 tertutup. Setelah waktunya sudah tercapai maka posisi sekarang menjadi: titik 3–1 dan  6-8 menutup dan titik 4–1 dan 5–8 membuka. Posisi tersebut akan tidak berubah, kecuali aliran listriknya terputus posisinya kembali ke semula.

4. Tombol
Saklar tekan/tombol (push button), ada dua macam yaitu tombol tekan normally open (NO) dan tombol tekan normallly close (NC). Konstruksinya tombol tekan  ada beberapa jenis, yaitu jenis tunggal ON dan OFF dibuat secara terpisah dan ada juga yang dibuat satu tempat. Jenis ini untuk satu tombol dapat untuk ON dan OFF tergantung keinginan penggunaannya. Tombol tekan tunggal terdiri dari dua terminal, sedang tombol tekan ganda terdiri dari empat terminal. Tombol bekerja pada saat tombol ditekan akan merubah kontak NO menjadi NC dan NC menjadi NO.



Tata letak komponen komponen kontrol
a.    Pemasangan komponen
1.    Letak komponen MCB dan kontaktor terpasang dari kanan dengan jarak 0–15 mm dari tepi kanal
2. Penyusunan komponen tidak terbalik posisinya
3.    Pemasangannya semua komponen harus sesuai dengan ukuran tata letak dengan toleransi 5 mm,             misalnya kanal dengan kanal, rel omega dengan kanal atas dan bawah dan sebagainya
4.    Pemasangan semua komponen harus kuat, rapi.
5.    Pemasangan terminal dengan urutan terminal  utama sebelah kiri dan terminal kontrol sebelah kanan     terminal utama.

b.    Pengawatan
1.    Gunakan sepatu kabel pada terminal-terminal: MCB, MC, TOR, dan komponen terminal  I/O
2.    Semua sambungan pada semua komponen harus kuat
3.    Mengunakan warna kabel harus sesuai PUIL dan rapi, pada  kabel pada pintu harus dibungkus dengan spiral plastik dan ditempel pada pintu panel dengan isolasi perekat
4.    Perlu label setiap komponen
5.    Kabel PE pada pintu dan landasan panel harus kuat.

c.    Sambungan rangkaian
1.    Rangkaian sumber daya
     Rangkaian pengaman baik pada F0, F1 , F2 harus sesuai dengan fungsinya
2.  Rangkaian utama
    Rangkaian ini harus kuat dengan penghantar yang sesuai PUIL dan dapat bekerja sesuai dengan fungsinya.
3.  Rangkaian Kontrol
    Rangkaian kontrol tidak dapat terbalik. Rangkaian  kontrol harus terpisah dengan rangkaian utama. Semua komponen pada rangkaian kontrol harus sesuai dengan fungsinya.
4.  Rangkaian indikator
    Rangkaian indikator harus berfungsi sebagai indikator sesuai rencana




Selasa, 31 Agustus 2021

BAHAYA LISTRIK DAN TEORI DOMINO

 

  BAHAYA LISTRIK DAN TEORI PENYEBAB KECELAKAAN KERJA

 

BAHAYA LISTRIK

Bahaya listrik dibedakan menjadi dua :

1.      Bahaya primer yaitu bahaya yang disebabkan oleh listrik secara langsung, contoh bahaya listrik dan bahaya kebakaran atau ledakan

2.      Bahaya sekunder yaitu bahaya yang diakibatkan oleh listrik secara tidak langsung, contoh terbakar, jatuh

Dampak sengatan listrik bagi manusia :

1.      Vebrilasi ventricular yaitu berhentinya denyut jantung atau denyutan yang sangat lemah sehingga tidak mampu mersirkulasikan darah dengan baik

2.      Gangguan pernafasan akibat  kontraksi hebat (suffocation) yang dialami oleh paru paru

3.      Kerusakan sel tubuh akibat energi listrik yang mengalir di dalam tubuh

4.      Terbakar akibat efek panas listrik

 

Tiga faktor penentu tingkat bahaya listik

a.       Arus listrik

b.      Tegangan listrik

c.       Tahanan listrik

Sedang faktor penentu keseriusan sengatan listrik pada tubuh manusia yaitu :

a.       Besar arus

b.      Lintasan aliran

c.       Lama sengatan

Besar arus yang mengalir dalam tubuh ditentukan oleh tegangan dan tahanan tubuh yang meliputi jenis, kelembaban/mouister kulit, ukuran tubuh, berat badan.

Tahanan kontak kulit bervariasi dari 1000 KΩ (untuk kulit kering) sampai 100 Ω (untuk kulit basah.  Tahanan internal tubuh sendiri 100-500 Ω.

Contoh :

Jika tegangan sistem yang digunakan 220 V, berapakah kemungkinan arus yang mengalir ke dalam tubuh manusia ?

. ) kondisi terburuk :

-          Tahanan tubuh adalah tahanan kontak kulit ditambah tahanan internal tubuh,

(Rk) = 100Ω + 100Ω = 200 Ω

-          Arus yang mengalir ke tubuh :

-          I = V/R = 220/200 Ω = 1,1 A

 . ) Kondisi terbaik :

-          Tahanan tubuh (Rk) = 1000 KΩ

-          I = V/R = 220/1000 KΩ  = 0,22 mA

 

SENGATAN LISTRIK

Instalasi yang tidak benar dan kesalahan pemakaian bisa menimbulkan bahaya sengatan listrik. Pada umumnya orang yang tersengat listrik masuk melalui tangan menuju kaki, melalui badan dengan jantung didalamnya.

          Sengatan listrik lebih dari 8 mA atau daya listrik 18 Watt tegangan 220 Volt bisa menyebabkan kontraksi otot hingga korban tidak mampu melepaskan diri dari sengatan.

Dan kebanyakan kematian yang terjadi karena sengatan listik disebabkan tidak terkontrolnya serat-serat otot jantung akibatnya jantung berhenti berdenyut. Sengatan arus 0,5 mA tidak memberi efek apa-apa, tetapi getaran akan mulai terasa jika arus mencapai 2 mA.  Terasa sakit bila mencapai 8 mA dan sampai 20 mA orang sudah sulit melepaskan diri karena kontraksi otot.

          Sengatan listrik mencapai 50 mA selama beberapa menit dapat menyebabkan kematian, terlebih pada 50 mA- 500 mA, fibrilasi ventrikular sering terjadi dan jarang korban yang selamat. Semakin berat tubuh seseorang semakin besar arus yang dibutuhkan untuk mengakibatkan fibrilasi ventrikular tadi dan pingsan terjadi pada arus 40 mA. Bahaya besar timbl pada arus berfrekuensi 40 – 60 Hz. Untuk arus DC besarnya arus berbahaya sekitar 3-5 kali besarnya arus AC untuk jenis bahaya yang sama.

 

Teori Domino Heinrich Tentang Kecelakaan Kerja

Dalam buku Industrial Safety, David Colling, mendefiniskan kecelakaan kerja (selanjutnya akan ditulis kecelakaan saja) sebagai berikut:

“Kejadian tak terkontrol atau tak direncanakan yang disebabkan oleh faktor manusia, situasi, atau lingkungan, yang membuat terganggunya proses kerja dengan atau tanpa berakibat pada cedera, sakit, kematian, atau kerusakan properti kerja.”

Ada beberapa teori yang berkembang untuk menjelaskan terjadinya kecelakaan ini. Salah satu yang ternama adalah yang diusulkan oleh H.W. Heinrich dengan teorinya yang dikenal sebagai Teori Domino Heinrich yang menggambarkan terjadinya kecelakaan kerja sebagai akibat dari jatuhnya domino-domino penyebab kecelakaan. Prinsipnya, jika satu domino jatuh, maka selanjutnya akan menjatuhkan 4 domino di depannya. Untuk mencegah keseluruh domino jatuh, maka salah satu domino harus dicabut. Biasanya cara termudah dan dianggap paling efektif adalah menghilangkan bagian tengah yang memiliki label “unsafe act or condition”. Teori ini dianggap cukup jelas dan dianggap bisa diaplikasikan di lapangan. Dalam Teori Domino Heinrich, kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan: 


  1. Kondisi kerja; 
  2. Kelalaian manusia; 
  3. Tindakan tidak aman; 
  4. Kecelakaan; 
  5. Cedera.


Kelima faktor ini tersusun layaknya kartu domino yang diberdirikan. Jika satu kartu jatuh, maka kartu ini akan menimpa kartu lain hingga kelimanya akan roboh secara bersama.Ilustrasi ini mirip dengan efek domino yang telah kita kenal sebelumnya, jika satu bangunan roboh, kejadian ini akan memicu peristiwa beruntun yang menyebabkan robohnya bangunan lain.


Menurut Heinrich, kunci untuk mencegah kecelakaan adalah dengan menghilangkan tindakan tidak aman sebagai poin ketiga dari lima faktor penyebab kecelakaan. Menurut penelitian yang dilakukannya, tindakan tidak aman ini menyumbang 98% penyebab kecelakaan.

Terus bagaimana penjelasan dengan menghilangkan tindakan tidak aman ini dapat mencegah kecelakaan? Kembali ke analogi kartu domino tadi, jika kartu nomer 3 tidak ada lagi, seandainya kartu nomor 1 dan 2 jatuh, ini tidak akan menyebabkan jatuhnya semua kartu. Dengan adanya gap/jarak antara kartu kedua dengan kartu keempat, pun jika kartu kedua terjatuh, ini tidak akan sampai menimpa kartu nomer 4. Akhirnya, kecelakaan (poin 4) dan cedera (poin 5) dapat dicegah.

Tercatat kontribusi terbesar penyebab kecelakaan kerja adalah berasal dari sikap dan kondisi tidak aman. Maka dari itu, untuk mengurangi kecelakaan kerja dan risikonya bisa dilakukan pencegahan dengan meminimalisasi tindakan dan kondisi tidak aman di tempat kerja, dengan cara:

  1. Mengatur kondisi kerja sesuai peraturan perundangan
  2. Standarisasi, terkait syarat-syarat keselamatan, seperti pemasangan rambu-rambu keselamatan.
  3. Pengawasan agar peraturan dipatuhi
  4. Pelatihan terkait keselamatan untuk karyawan
  5. Laporan mengenai kecelakaan kerja, meliputi jenis kecelakaan kerja, jumlah kecelakaan kerja, kerugian akibat kecelakaan kerja, dan sebagainya
  6. Program penghargaan atas prestasi karyawan dalam meminimalisasi kecelakaan kerja
  7. Asuransi
  8. Membuat program K3 di tingkat perusahaan

Rabu, 25 Agustus 2021

PERANGKAT HUBUNG BAGI (konfigurasi)

  Konfigurasi Panel Hubung Bagi

Seperti yang kita ketahui terdapat beberapa macam panel menurut fungsi dan pendistribusiannya. Setiap panel memiliki fungsi dan kegunaan masing-masing tanpa harus memiliki ketergantungan dengan panel lainnya. Berikut adalah beberapa macam jenis panel :

1.    LVMDP (Low Voltage Main Distribution Panel)

LVMDP adalah sebagai panel penerima daya dari trafo dan mendistribusikan power tersebut ke panel SDP (Sub Distribution Panel).

2.    SDP (Sub Distribution Panel adalah panel pembagi daya ke sirkit akhir yang berupa panel penerangan (LP), Panel Control (CP), Panel Daya (PP).

3.    LP (Lighting Panel)  adalah suatu panel yang seluruh bebannya berupa penerangan.

4.    CP (Control Panel adalah suatu panel untuk mengoperasikan beban berupa tenaga (Motor).

5.    PP (Power Panel) adalah panel yang digunakan untuk mendistribusikan beban melalui kotak kontak.




 Syarat Pemasangan Panel

 Penempatan panel harus memenuhi syarat-syarat berikut ini sesuai dengan PUIL 2000 (6.3-6.4) yaitu :

1.    Tinggi maksimal dari lantai 1,2 – 2m.
2.    Di depan panel harus memiliki ruang bebas yang cukup luas.
3.    Saat membuka panel ini tidak terganggu oleh benda apapun.
4.    Pintu harus bisa terbuka penuh.
5.  Panel dipasang pada tempat yang sesuai, kering dan berventilasi cukup

 Penataan PHB

PHB harus ditata dan dipasang sedemikian rupa sehingga terlihat rapi dan teratur, dan harus ditempatkan dalam ruang yang leluasa. (PUIL 2000:6.2.1.1)PHB harus ditata dan dipasang sedemikian rupa sehingga pemeliharaan dan pelayanan mudah dan aman, dan bagian yang penting mudah dicapai. (PUIL 2000:6.2.1.2).

Semua komponen yang pada waktu kerja memerlukan pelayanan, seperti instrumen ukur, tombol dan sakelar, harus dapat dilayani dengan mudah dan aman dari depan tanpa bantuan tangga, meja atau perkakas yang tidak lazim lainnya. (PUIL 2000:6.2.1.3).

Penyambungan saluran masuk dan saluran keluar pada PHB harus menggunakan terminal sehingga penyambungannya dengan komponen dapat dilakukan dengan mudah teratur dan aman. Ketentuan ini tidak berlaku bila komponen tersebut letaknya dekat saluran keluar atau saluran masuk. (PUIL 2000:6.2.1.4).

Terminal kabel kendali harus ditempatkan terpisah dari terminal saluran daya. (PUIL 2000:6.2.1.5). Beberapa PHB yang letaknya berdekatan dan disuplai oleh sumber yang sama sedapat mungkin ditata dalam satu kelompok. (PUIL 2000:6.2.1.6). PHB tegangan rendah atau bagiannya, yang masing-masing disuplai dari sumber yang berlainan harus jelas terpisah dengan jarak sekurang-kurangnya 5 cm. (PUIL 2000:6.2.1.7).

Komponen PHB harus ditata dengan memperhatikan keadaan Indonesia dan dipasang sesuai dengan petunjuk pabrik pembuat; jarak bebas harus memenuhi ketentuan tersebut dalam 6.2.9 (PUIL 2000:6.2.1.8).

Sambungan dan hubungan penghantar dalam PHB harus mengikuti ketentuan dalam 7.11. Semua mur baut dan komponen yang terbuat dari logam dan berfungsi sebagai penghantar, harus dilapisi logam pencegah karat untuk menjamin kontak listrik yang baik. Rel dari tembaga hanya memerlukan lapisan tersebut pada pemakaian arus 1000A ke atas. 
Sambungan dua jenis logam yang berlainan harus menggunakan konektor khusus, misalnya konektor bimetal. (PUIL 2000:6.2.1.9).

 Ruang pelayanan dan ruang bebas sekitar PHB

 Di sekitar PHB harus terdapat ruang yang cukup luas sehingga pemeliharaan, pemeriksaan, perbaikan, pelayanan dan lalulintas dapat dilakukan dengan mudah dan aman. (PUIL 2000:6.2.2.1). Ruang pelayanan di sisi depan, lorong dan emper lalulintas yang dimaksud dalam di atas pada PHB tegangan rendah, lebarnya harus sekurang-kurangnya 0,75 m, sedangkan tingginya harus sekurang-kurangnya 2 m. (PUIL 2000:6.2.2.2).

Jika di sisi kiri dan kanan ruang bebas yang berupa lorong terdapat instalasi listrik tanpa dinding pengaman (dinding pemisah), lebar ruang bebas ini harus sekurang- kurangnya 1,5 m (PUIL 2000:6.2.2.3).

Pintu ruang khusus tempat PHB terpasang harus mempunyai ukuran tinggi sekurang-kurangnya 2 m dan ukuran lebar sekurang-kurangnya 0,75 m (PUIL 2000:6.2.2.4). Dalam ruang sekitar PHB tidak boleh diletakkan barang yang mengganggu kebebasan bergerak. (PUIL 2000:6.2.2.5)

PHB harus dipasang di tempat yang jelas terlihat dan mudah dicapai. Tempat itu harus dilengkapi dengan tanda pengenal seperlunya dan penerangan yang cukup. (PUIL 2000:6.2.2.6)Dinding dan langit-langit ruang tempat PHB dipasang harus terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. (PUIL 2000:6.2.2.7).

Untuk PHB terbuka tegangan rendah dengan rel telanjang melintang dalam ruang bebas, tinggi rel tersebut di atas lantai lorong harus sekurang kurangnya 2,3 m. (PUIL 2000:6.2.2.8).

Pengelompokan Perlengkapan Sirkit

 Pada PHB yang mempunyai banyak sirkit keluar fase tunggal, dan fase tiga, baik untuk instalasi tenaga maupun instalasi penerangan, gawai proteksi, sakelar dan terminal yang serupa harus dikelompokan sehingga:

a.    Tiap kelompok melayani sebanyak- banyaknya enam buah sirkit.
b.    Kelompok perlengkapan instalasi tenaga terpisah dengan kelompok  perlengkapan instalasi             penerangan.
c.    Kelompok perlengkapan fase tunggal, fase dua dan fase tiga merupakan kelompok sendiri sendiri yang terpisah. (PUIL 2000:6.2.6.1).

Penempatan Pengaman Lebur, Sakelar dan Rel

Jika pengaman lebur dan sakelar kedua-duanya terdapat pada sirkit masuk, sebaiknya pengaman lebur dipasang sesudah sakelar. (PUIL 2000:6.2.7.1). Jika pengaman lebur dan sakelar kedua duanya terdapat pada sirkit keluar, sebaiknya pengaman lebur dipasang sesudah sakelar sebagaimana dimaksud 6.2.7.1 di atas. Apabila sistem proteksi tidak menggunakan pengaman lebur tetapi menggunakan pemutus sirkit sejenis MCB, maka ketentuan dalam 6.2.7.1 dan ayat ini tidak berlaku, tetapi diterapkan ketentuan seperti tersebut dalam 6.2.4.1. (PUIL 2000:6.2.7.2).
Kemampuan sakelar pada suatu sirkit sekurang-kurangnya harus sama dengan kemampuan lebur pada sirkit tersebut. (PUIL 2000:6.2.7.3). Dalam memasang rel dan penghantar pada PHB untuk arus bolak balik harus dihindari kemungkinan terjadinya pemanasan yang berlebihan yang disebabkan oleh arus pusar pada kerangka dan pipa pelindung yang terbuat dari bahan feromagnetis. (PUIL 2000:6.2.7.4)

Komponen yang dipasang pada Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB)

Komponen yang dipasang pada PHB harus dari jenis yang sesuai dengan syarat penggunaannya. (PUIL 2000:6.6.1.1). Kemampuan komponen yang dipasang pada PHB harus sesuai dengan keperluan. (PUIL 2000: 6.6.1.2). Komponen yang dipasang pada PHB harus memenuhi ketentuan PUIL 2000 2.1.1.2. (PUIL 2000: 6.6.1.3).

komponen dalam suatu panel listrik yang diantaranya adalah:

 1.    Miniature Circuit Breaker (MCB).

2.    Kontaktor Magnetik (Magnetic Contactor).

3.    Thermal Overload (TOR).

4.      Sakelar Tekan (Push Button).

5.    Instrumen Ukur dan Lampu Indikator (Indicator Lamp).

6.    Kabel Penghantar.

7.    Sepatu Kabel.

8.    Busbar.

9.    Cable Tidy atau Spiral.

10.    Wiring Duct.

11.    Cable Gland.