Selasa, 19 Januari 2021

MENGHITUNG JUMLAH LAMPU RUANGAN

 MENGHITUNG JUMLAH LAMPU PADA RUANGAN


    Setiap ruang pada bangunan rumah, kantor, apartement, gudang, pabrik, dan lainnya pasti membutuhkan penerangan. Intensitas penerangan merupakan  aspek penting di tempat-tempat  tersebut  karena berbagai masalah akan timbul ketika kualitas intensitas penerangan di tempat tersebut tidak memenuhi standard yang perlu diterapkan.

    Perencanaan penerangan suatu tempat harus mempertimbangkan beberapa faktor antara lain intensitas penerangan saat digunakan untuk bekerja, intensitas penerangan ruang pada umumnya, biaya instalasi, biaya pemakaian energi dan biaya pemeliharaannya.

    Perlu diperhatikan, perbedaan intensitas penerangan yang terlalu besar antara bidang kerja dan sekitarnya harus dihindari karena  mata kita akan memerlukan daya yang besar untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut yang menyebabkan mata mudah lelah.

    Untuk mendapatkan  hasil penerangan / pencahayaan yang baik dan merata, kita harus dipertimbangkan iluminasi (kuat penerangan), sudut penyinaran lampu, jenis dan jarak penempatan lampu yang diperlukan sesuai dengan kegiatan yang ada dalam suatu ruangan atau fungsi ruang tersebut.

    Pada dasarnya dalam perhitungan jumlah titik lampu pada suatu ruang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain : dimensi ruang, kegunaan / fungsi ruang, warna dinding, type armature yang akan digunakan, dan masih banyak lagi.

Istilah yang sering digunakan dalam pencahayaan dan satuan -satuannya :

1. Intensitas penerangan

Intensitas penerangan adalah kuat cahaya (fluk cahaya) yang jatuh pada bidang kerja. Satuan untuk itensitas penerangan adalah lux. Intensitas penerangan harus ditentukan bidang kerja (di tempat dimana kerjanya dilakukan). Bidang kerja umumnya di ambil 80 cm diatas lantai. Besarnya intensitas penerangan pada sutu titik yang jaraknya r dari sumber cahaya adalah :

2. Intensitas cahaya

Intensitas cahaya adalah besaran pokok fisika untuk mengukur daya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya pada arah tertentu per satuan sudut. Satuan SI dari intensitas cahaya adalah Candela (Cd). 

Sederhananya perbedaan Candela, Lux dan Lumen  adalah :

> Candle. Semakin besar nilai Candle (cahaya lampu) maka lampu semakin terang. Candle dihitung dari satu titik sumber lampu
> Lumen, tingkat cahaya yang diarahkan dari sumber lampu. Lumen menjadi angka kekuatan cahaya pada saat cahaya di arahkan pada sudut tertentu. Angka Lumen bisa berubah walau mengunakan cahaya dari lampu dengan Candle yang sama. Karena cahaya bisa diarahkan dengan reflektor.
> Lux adalah hasil akhir jatuhnya cahaya. Berapapun angka Candle dan Lumen tidak berlaku di Lux. Lux hanya menghitung cahaya sinar pada satu ruang saja, dan angka cahaya terang dari Lux. Sehingga digunakan untuk pencahayaan lampu rumah atau lampu jalan. dan seberapa luas cahaya bisa menerangi satu bidang.

Daya Pencahayaan Maksimum Menurut SNI 

  •   *  Ruang Kantor/ Industri   =   15 watt /  m2
  •   *  Rumah tak melebihi       =   10 watt /  m2
  •   *  Toko                               =    20-40 watt /  m2
  •   *  Hotel                              =    10-30 watt /  m2
  •   *  Sekolah                          =   15-30 watt /  m2
  •   *  Rumah sakit                   =   10-30 watt /  m2  

Coba terapkan perhitungan tersebut di atas pada setiap ruang di rumah, kemudian jumlahkan dan dirata-rata. misalnya sebuah rumah dengan luas 42 m persegi, maka jumlah daya untuk lampu harus dibawah 420 watt. Jika jumlahnya berlebih, sebaiknya kurangi titik lampu atau gunakan jenis lampu hemat energi.

          Terdapat dua aspek penting dari perencanaan penerangan, pertama yaitu menentukan jumlah armature yang dibutuhkan berdasarkan nilai intensitas yang diberikan, sedangkan yang kedua adalah rekomendasi pemasangan berdasarkan bentuk ruangan. 

Untuk mendapatkan  JUMLAH LAMPU pada suatu ruang  dapat dihitung dengan metode factor utilisasi ruangan, rumusnya  adalah  sebagai berikut :

 

N = (  1.25 x E x L x W ) / (  kΦ x η LB  x η R )

 

Dimana :

N         =   Jumlah armature/titik lampu

1.25     =  Faktor Perencanaan

E         =   Intensitas Penerangan ( Lux )

L          =  Panjang Ruang ( meter )

W        =  Lebar Ruang ( meter )

Φ         =  Flux Cahaya (  Lumen )

η LB    =  Efisiensi armature ( 0,7-0,8 % )

η R      =  Factor Utilisasi Ruangan ( 0.91 )

 

Faktor ruangan ( k ) dapat diketahui dari data dimensi ruangan, rumusnya sebagai berikut :

 K = ( A x B ) / ( h ( A + B ))

 Dimana :

A  = lebar ruangan ( meter )

B  = panjang ruangan ( meter )

H  = tinggi ruangan ( meter )

h  = H – 0.85 ( meter )


TABEL KUAT PENERANGAN (E)

Perkantoran                                                                     =  200 - 500 Lux

Apartemen / Rumah                                                        =  100 - 250 Lux

Hotel                                                                                =  200 - 400 Lux

Rumah sakit / Sekolah                                                    =  200 - 800 Lux

Basement / Toilet / Coridor / Hall / Gudang / Lobby        =  100 - 200 Lux

Restaurant / Store / Toko                                                 =  200 - 500 Lux


Efisiensi Penerangan

Fluk cahaya yang dikelaurkan lampu tidak semuanya mancapai bidang kerja karena sebagian akan dipancarkan ke dinding dan langit-langit ruangan, oleh sebab itu untuk meentukan fluk cahayaperlu memperhitungkan efisiensi atau rendemen. Fluk cahaya yang hilang adalah fluk cahaya yang diserap oleh iding, langit-langit dan gorden. Jika efisiensi E turun  20 % hinggga lampu harus diganti atau dibersihkan. Penggantian lampu sebaiknya dilakukan per kelompok. Adapun rumus untuk menetukan efisiensi tersebut adalah :

dimana :

Øg =  Fluk cahaya yang berguna yang mencapai bidang kerja secara langsung maupun tidak langsung  setelah dipantulkan oleh dinding dan langit-langit

Øo =  Fluk  cahaya yang dipancarkan oleh semua sumber cahaya yang ada dalam ruangan

    Sedangkan besarnya fluk cahaya yang dipancarkan oleh semua sumber cahaya yang adal dalam ruangan adalah :

Jarak Sumber Cahaya

Efisisensi penerangan juga dipengaruhi olehcara penempatan atau jaraksumber cahaya pada ruangan, jarak α antar cahaya sumber sedapat mungkin harus sama untuk kedua arah. Jarakk sumber cahaya yang paling luar dengan dinding harus sama dengan 0,5 a. Besarnya a dan h sedapat mungkin harus sama. Untuk ruangan kecil dimana a<h maka untuk ruangan umum sebaiknya digunakan 4 armatur.

Contoh perhitungan penerangan

 

         Parameter perencanaan untuk perhitungan penerangan ruang dipengaruhi oleh dimensi ruangan, kualitas cahaya yang disesuaikan dengan fungsi ruangan, jumlah lampu tiap armature, jenis lampu dan warna ruangan. Dari data-data tersebut dapat diketahui jumlah armature dan pemasangannya.

Suatu contoh perencanaan penerangan ruang meeting  dengan data dimensi ruangan :

A = 15 meter, B = 8 meter, H = 3.5 meter dan h = 2.5 meter

Intensitas yang dikehendaki pada ruangan sebesar 300 Lux Lampu yang dipakai adalah Osram Dulux EL/D 2x24 Watt dari data di kardusnya memiliki 1800 lumen dan nilai efisiensi armature sebesar 0.58.

Tingkat refleksi ruangan diketahui sebagai berikut : langit-langit = 0.8 ; dinding = 0.5 dan lantai 0.3.

Factor utilitas ruangan diketahui dari table sebesar 0.91

  •   perhitungan dimulai dengan mencari factor ruangan ( k )

K = ( A x B ) / ( h ( A + B ))

K = ( 15 x 8 ) / ( 2.5 ( 15 + 8 ))

K = ( 120 ) / ( 57.5 ) = 2 

 

  •   setelah itu baru dicari jumlah armature-nya  ( n )

N = (  1.25 x E x L x W ) / (  kΦ x η LB  x η R )

N = (  1.25 x 300 Lux x 15 m x 8 m ) / (  2 x 1800 x 0.58  x 0.91 )

N = 23

 

Jadi jumlah armature-nya 23, dibulatkan menjadi 24 armature, disarankan dibagi menjadi 3 baris tiap barisnya terdiri dari 8 armature untuk dimensi ruangan seperti tersebut di atas.

     Dengan menggunakan Rumus lain untuk menentukan jumlah lampu penerangan dalam suatu ruangan.

Rumus:

Penjelasan Rumus diatas, adalah :

N      = Jumlah titik lampu
E      = Kuat penerangan (Lux), rumah atau apartemen standar 100lux - 250lux
L      = Panjang (Length) ruangan dalam satuan Meter
W     = Lebar (Width) ruangan dalam satuan Meter.
Ø     = Total nilai pencahayaan lampu dalam satuan LUMEN
LLF  = (Light Loss Factor) atau Faktor kehilangan atau kerugian cahaya, biasa nilainya antara 0,7–0,8
Cu   = Coeffesien of Utillization/faktor pemanfaatan (50% - 65%)
n      = Jumlah Lampu dalam 1 titik

Sebagai contoh perhitungan untuk mengetahui seberapa banyak kebutuhan lampu dalam suatu ruangan, kita dapat mengambil data berikut:

Contoh:

Suatu ruangan Kamar tidur berukuran Panjang 5 meter dan Lebar 4 Meter di dalam Rumah tinggal, hendak dipasang Lampu TL 40 Watt, Berapa banyak lampu TL 40 Watt yang dibutuhkan untuk memberikan pencahayaan yang baik dalam ruangan Kamar tidur tersebut ?

Diketahui:

Dapat kita lihat, dari data standar kuat pencahayaan diatas bahwa untuk ruangan Kamar tidur di rumah tinggal adalah : 120 Lux – 250 Lux.

Kita ambil Nilai tengah sekitar 200 Lux
Maka diketahui, E = 200 Lux.
Panjang ruangan atau L = 5 meter
Lebar ruangan atau W = 4 meter
Nilai Lumen lampu atau Ø = 40 Watt x 75 Lumen
Ø = 3000 Lumen.

Untuk sistem penerangan langsung dengan warna plafon dan dinding terang, Nilai Koefisien atau CU ( coeffesien of utilization ) adalah : 50-65 %.

Untuk Hal ini, kita bisa ambil nilai terendah yaitu 50 % atau 0,5

Light loss factor ( LLF ) = 0,7-0,8. LLF tergantung ; kebersihan sumber cahaya, tipe kap lampu, penyusutan cahaya dari permukaan lampu, dan lainnya

Nilai LLF kita ambil nilai sebesar = 0,7

Jumlah lampu dalam satu titik (n) adalah 1

Maka,

N =   E x L x W
        Ø x LLF x Cu x n

N =  200 LUX x 5 meter x 4 meter
       3000 Lumen x 0,7 x 0,5 x 1

N =   4000
         1050

N =   3,8 (dibulatkan menjadi 4 buah lampu)

Maka didapat bahwa Jumlah lampu yang dibutuhkan untuk memberikan pencahayaan pada Kamar tidur di Rumah tinggal adalah sebanyak 4 Buah dengan Lampu yang digunakan adalah TL 40 Watt.

Atau jumlah watt yang dibutuhkan adalah 4 x 40 watt = 160 watt.


Minggu, 17 Januari 2021

PEMBAGIAN GROUP INSTALASI

PEMBAGIAN GROUP INSTALASI PENERANGAN 


    Instalasi listrik 1 fasa dapat dibagi menjadi beberapa group sesuai kebutuhan,  yang pada umumnya digunakan pada instalasi bangunan rumah bertingkat, namun dapat juga digunakan pada instalasi bangunan rumah sederhana sesuai kebutuhan.
Masing-masing grup instalasi diamankan dan dibatasi oleh MCB dengan kapasitas sesuai dengan KHA kabel penghantarnya . Saluran kabel yang digunakan kemasing masing MCB hanya kabel phasa, sedangkan kabel netral dan kabel ground langsung disambungkan dari kabel sumber listrik. Sebelum membagi menjadi beberapa grup instalasi,terlebih dahulu dipasangkan MCB utama. Tujuannya adalah untuk menjaga agar MCB pembatas dari daya terpasang tidak putus
    Besarnya nilai masing-masing MCB pembatas tiap grup instalasi dapat disesuaikan dengan pemakaian tiap grup. MCB pembatas besarnya tidak boleh melebihi besar daya yang terpasang dari sumber listrik. Jumlah titik dapat berbeda pada setiap group namun dayanya diusahakan sama atau mendekati sehingga seimbang antara group satu dengan yang lain

Pembagian group instalasi bertujuan untuk :

* Menjaga agar seluruh bangunan tidak mengalami padam toal ketika terjadi gangguan internal 

      *  Memisahkan atau menngelompokkan beban berdasarkan jenis beban
      *   Memudahkan pegontrolan dan pemeliharaan instalasi

Contoh pembagian group instalasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini


Dari gambar B tersebut dibawah dapat dilihat bahwa setiap goup memiliki tiga kabel yaitu kabel fasa (warna hitam) kabel netral (warna biru) kabel ground (warna kuning). Saluran kabel yang  disambungkan ke masing-masing MCB hanya kabel fasa, sedangkan kabel netral dan kabel ground masing-masing group langsung disambungkan dengan kabel sumber PLN  (NYM 3X4 mm² atau 3X 2.5 mm² )


contoh penjelasan gambar C dibawah adalah sebagai berikut :

> Jika menggunakan beberapa group sebaiknya menggunakan MCB utama (MCB daya terpasang)
> MCB utama dipasang pada saluran fasa sebelum pembagian group instalasi
> Jika daya terpasang 900 VA maka kapasitas MCB  utamanya adalah 4 A
>Jika instalasi rumah dibuat dua group maka kapasitas MCB masing-masing group tidak   boleh melebihi dari kapasitas MCB utamanya (kapasitas MCB setiap  group dipasang 2A atau maksimal 4A ). 
> Jika MCB yang dipasang pada setiap group melebihi dari kapasitas MCB utama,  jika    terjadi arus  lebih atau konsleting pada group maka yang terputus adalah MC utamanya bukan MCB group.

Gambar dibawah adalah contoh diagram pembagian instalasi penerangan 1 fasa 2 group





Rabu, 06 Januari 2021

MIKROMETER SEKERUP

 

Mikrometer Sekrup


Mikrometer sekrup adalah alat yang digunakan untuk mengukur benda-benda berukuran kecil dengan tingkat presisi yang cukup tinggi. Ketelitian mikrometer sekrup bisa mencapai 0,01 mm.  Mikrometer Sekrup ini ditemukan pada abad ke-17 oleh seorang ilmuan bernama Willaim Gascoigne dimana saat itu sangat dibutuhkan sebuah alat yang lebih baik dan lebih persisi selain dari jangka sorong

Fungsi alat ukur mikrometer skrup adalah sama seperti fungsi Alat Ukur Jangka Sorong dalam menghitung suatu panjang, tebal dan diameter sebuah benda, hanya saja tingkat ketelitian alat ukur mikrometer lebih tinggi sepuluh kali lipat daripada jangka sorong.

Mikrometer sekrup pada umumnya digunakan untuk mengukur diameter atau ketebalan suatu benda yang ukurannya kecil. Seperti dijelaskan sebelumnya, alat ini memiliki kepresisian 10x lipat dari jangka sorong sehingga dapat mengukur benda yang lebih kecil tepatnya pada ketelitian 0,01 mm.

Bagian-Bagian Mikrometer Sekrup

1.  Poros Tetap

Poros tetap merupakan bagian mikrometer sekrup yang berfungsi untuk menahan benda yang sedang diukur. Benda yang akan diukur diletakkan di antara poros tetap dan poros geser.

2.    Poros Geser

Poros geser adalah bagian dari mikrometer sekrup yang berfungsi sebagai penekan benda saat diukur. Sesuai dengan namanya, poros geser bisa digeser menyesuaikan dengan ukuran benda yang sedang diukur.

3.    Pengunci

Pengunci adalah bagian dari mikrometer sekrup yang berfungsi untuk mengunci poros geser. Jika sudah dikunci, poros geser tidak akan bergerak, sehingga pengamat bisa melihat hasil pengukuran.

4.    Skala Utama

Nah, skala utama ini adalah bagian yang sering kamu lihat saat menggunakan mikrometer sekrup. Bagian ini berfungsi untuk menunjukkan ketebalan utama benda yang satuannya mm.

5.    Skala Nonius

Skala nonius adalah skala tambahan atau skala putar. Skala nonius berfungsi sebagai skala penambah pada skala utama. Bagian ini adalah bagian yang tidak bisa kamu temukan pada penggaris, mistar, atau meteran karena nilainya sangat kecil.

6.    Pemutar

Pemutar adalah bagian mikrometer sekrup yang berfungsi untuk memutar ke kiri atau ke kanan suatu poros geser.

7.    Bingkai

Bingkai merupakan bagian mikrometer sekrup yang berbentuk seperti huruf C. Bingkai terbuat dari logam yang cukup tebal dan kuat. 


Cara menggunakan mikrometer
Prinsip kerja mikrometer sekrup adalah menggunakan suatu sekrup untuk memperbesar jarak yang terlalu kecil untuk diukur secara langsung menjadi putaran suatu sekrup lain yang lebih besar dan dapat dilihat skalanya.
  1. Memastikan pengunci dalam keadaan terbuka.
  2. Membuka rahang dengan cara memutar skala putar ke kiri.
  3. Memasukkan benda yang akan diukur panjangnya di bagian rahang.
  4. Putar kembali skala putarnya sampai terdengar bunyi “klik”.
  5. Memutar pengunci sampai skala putar tidak bisa bergerak.
  6. Membaca hasil pengukuran.

Untuk membaca nilai pada mikrometer sekrup ada 2 bagian yang harus diperhatikan yaitu :

1. Skala Utama
    Terdiri dari skala : 1, 2, 3, 4, 5 mm, dan seterusnya yang berada pada bagian atas. Dan nilai tengah :       1,5; 2,5; 3,5; 4,5; 5,5 mm, dan seterusnya yang berada dibagian bawah
2. Skala Putar atau nonius
    Terdiri atas skala 1 sampai dengan 50. Setiap skala putar atau skala nonius berputar mundur 1kali          putaran maka skala utama bertambah 0,5 mm. Sehingga dari logika tersebut dapat diperoleh 1 skala       putar = 1/100 mm = 0,01 mm

Cara membaca hasil pengukuran mikrometer

1.    Yang pertama silahkan letakkan mikrometer sekrup satu arah sehingga bisa dilihat dengan jelas.

2.   Baca skala utama dari mikrometer tersebut, dibagian atas garis menunjukkan angka bulat mm seperti 1 mm dan seterusnya, sedangkan pada garis skala bawah menunjukkan bilangan 0.5 mm.

3.   Untuk skala utama, dapat dilihat bahwa posisi selbung luar atau skala nonius telah melewati angka “5” di bagian atas, dan pada bagian bawah garis horizontal telah melewati 1 strip. 0.5mm. Artinya, pada bagian ini didapat hasil pengukuran 5 + 0.5 mm = 5.5 mm. Pengukuran juga dapat dilakukan dengan prinsip bahwa setiap 1 strip menandakan jarak 0.5mm. Dikarenakan terlewati 5 strip di atas garis horizontal dan 6 strip di bawah garis horizontal, maka total jarak adalah (5+6) x 0.5mm = 5.5mm

4.  Pada bagian kedua, terlihat garis horizontal di skala utama berhimpit dengan angka 28 di skala nonius. Artinya, pada skala nonius didapatkan tambahan panjang 0.28mm

5.    Maka, hasil akhir pengukuran mikrometer sekrup pada contoh ini adalah 5.5 + 0.28 = 5.78mm. Hasil ini memiliki ketelitian sebesar 0.01 mm.


lihat contoh di bawah :



Contoh soal :
1. Sebuah mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter bola kecil dengan hasil sebagai berikut.
    berapakah diameter bola kecilnya?

Berdasarkan gambar dihasilkan:

Skala nonius = 16 x 0,01 = 0,16 mm

Hasil Pembacaan Alat = skala utama + skala nonius

= 8 mm + 0,16 mm

= 8,16 mm

Jadi, diameter bola kecilnya adalah 8,16 mm.

2. Sebuah mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter benda dengan hasil sebagai berikut.
    berapakah diameter benda tersebut ?



Berdasarkan gambar dihasilkan:

Skala nonius = 27 x 0,01 = 0,27 mm

Hasil Pembacaan Alat = skala utama + skala nonius

= 3.5 mm + 0,27 mm

= 3.77 mm

Jadi, diameter bola kecilnya adalah 3.77 mm.


3. Sebuah mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur diameter benda dengan hasil sebagai berikut.

    berapakah diameter benda tersebut ?


Berdasarkan gambar dihasilkan:

Skala nonius = 30 x 0,01 = 0,30 mm

Hasil Pembacaan Alat = skala utama + skala nonius

= 4  mm + 0,30 mm

= 4.30 mm

Jadi, diameter bola kecilnya adalah 4.30 mm.

  



Senin, 04 Januari 2021

PERATURAN K3 INSTALASI

 PERATURAN DAN KESELAMATAN KERJA PEMASANGAN INSTALASI RUMAH

 

A.   Tujuan peraturan

 Peraturan instalasi listrik terdapat dalam buku Peraturan Umum Instalasi Listrik atau yang sering disingkat dengan PUIL. Di mulai dari tahun 1977, kemudian direvisi tahun 1987, dan terakhir tahun 2000 berganti nama menjadi Persyaratan Umum Instalasi Listrik . Persyaratan Umum Instalasi Listrik bertujuan untuk terselenggaranya dengan baik suatu pemasangan instalasi listrik, terutama  yang menyangkut keselamatan manusia terhadap bahaya sentuhan serta kejutan listrik,keamanan instalasi listrik beserta kelengkapannya, dan keamanan gedung serta isinya terhadap bahaya kebakaran akibat listrik serta tersedianya tenaga listrik yang efisien,

Persyaratan ini berlaku untuk semua instalasi arus kuat baik mengenai perencanaan, pemasangan, pemeriksaan dan pengujian, pelayanan, pemeliharaan maupun pengawasannya. Persyaratan Umum Instalasi Listrik ini tidak berlaku untuk ;

a. Instalasi listrik dengan tegangan rendah yang tidak melebihi 25 Volt dan dayanya tidak melebihi 100 Watt.

b.  Instalasi listrik dibawah tanah dalam tambang

c. Instalasi kapal laut, kapal terbang, kereta rel dan kendaraan lain yang digerakkan dengan mekanik

d.  Bagian dari instalasi listrik yang digunakan untuk keperluan telekomunikasi dan pelayanan kereta rel listrik

e. Bagian dari instalasi listrik dengan tegangan rendah yang  hanya digunakan untuk menyalurkan berita dan isyarat


Disamping Persyaratan Umum Instalasi Listrik dan peraturan mengenai kelistrikan yang berlaku, harus diperhatikan pula syarat-syarat dalam pemasangan instalasi listrik, antara lain ;

a.    Syarat ekonomis

Dalam perencanaan, pemasangan, perawatan harus dibuat semurah mungkin, dan kerugian daya harus sekecil mungkin

b.  Syarat keamanan

     Instalasi dibuat sedemikian rupa sehingga aman bagi manusia dan peralatannya dari gangguan hubung singkat, tegangan lebih dan lain sebagainya.

c.   Syarat keandalan (kontinuitas)

Kelangsungan pengaliran arus listrik kepada konsumen harus terjamin dengan baik.


Berdasarkan ketentuan PUIL 2000 ayat 202 B1 : semua instalasi yang selesai dipasang sebelum dipergunakan harus diperiksa dan diuji lebih dahulu. Menurut ayat 110 T16, tegangan dibagi menjadi :

·         Tegangan rendah ( 220 V sampai 1000 V)

·         Tegangan Menengah (1000 V – 20 kV)

·         Tegangan Tinggi ( di atas 20 kV)

Dengan adanya persyaratan yang harus diikuti sebagai rambu-rambu pekerjaan maka pekerjaan akan lebih tertib dan teratur sehingga memudahkan mencapai tujuan. Suatu instalasi harus harus memenuhi persyaratan yang menyangkut keamanan, dan kenyamanan serta kelangsungan keandalan,keawetan instalasi dan komponennya.

  Di Indonesia peralatan listrik diuji oleh suatu lembaga dari Perusahaan Umum Listrik Negara, yaitu Pusat Penyelidikan masalah Kelistrikan yang disingkat LMK. Sehingga pada setiap perlengkapan listrik harus tercantum tanda persetujuan dari LMK,seperti halnya dengan kabel yang  berselubung bahan termoplastik mutunya diawasi oleh LMK dengan mencantumkan simbol LMK pada kabel tersebut.

Dalam memilih perlengkapan instalasi listrik, termasuk juga menentukan jenis,ukuran,tegangan dan kemampuannya harus diperhatikan hal berikut :

  1. Kesesuaian dengan maksud  pemasangan dan penggunaanya.

  2. Kekuatan dan keawetannya,termasuk bagian yang dimaksudkan untuk melindungi perlengkapan lainnya.

  3. Keadaan dan resistansi isolasinya.

  4. Pengaruh suhu ,baik dalam keadaan normal,maupun abnormal.

  5. Pengaruh bunga api.

Dalam pemasangan instalasi listrik, biasanya rawan terhadap terjadinya kecelakaan. Kecelakaan bisa timbul akibat adanya sentuh langsung dengan penghantar beraliran arus atau kesalahan dalam prosedur pemasangan instalasi. Oleh karena itu perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan bahaya listrik serta tindakan keselamatan kerja. Beberapa penyebab terjadinya kecelakaan listrik diantaranya :

  1. Kabel atau hantaran pada instalasi listrik terbuka dan apabila tersentuh akan menimbulkan bahaya kejut.

  2. Jaringan dengan hantaran telanjang

  3. Peralatan listrik yang rusak

  4. Kebocoran listrik pada peralatan listrik dengan rangka dari logam, apabila terjadi kebocoran arus dapat menimbulkan tegangan pada rangka atau body

  5. Peralatan atau hubungan listrik yang dibiarkan terbuka

  6. Penggantian kawat sekring yang tidak sesuai dengan kapasitasnya  dapat menimbulkan bahaya kebakaran

  7. Penyambungan peralatan listrik pada kotak kontak (stop kontak)     dengan kontak  tusuk lebih dari satu (bertumpuk).

  

 Tindakan atau langkah keselamatan kerja dapat dibedakan atas empat hal antara lain

a. Keselamatan kerja bagi diri sendiri, yaitu tindakan keselamatan bagi diri orang yang melakukan pekerjaan instalasi.contoh;

b. menggunakan pakaian kerja yang sesuai dengan pekerjaan.

c. Menggunakan peralatan yang cocok.

d. Menggunakan peralatan pengaman (sabuk pengaman,sarung tangan dan  lain-lain)

    e. Keselamatan kerja bagi orang lain,contoh:sisa potongan kabel yang dipotong dengan tang potong jangan sampai berserakan di sembarang tempat.

       f. Keselamatan barang atau alat. Gunakan alat dan bahan sesuai dengan fungsinya.

g. Keselamatan lingkungan yaitu dengan tidak membuang sisa-sisa pekerjaan baik kabel,isolasi dan yang lainnya secara sembarangan.